perbedaan
perlakuan melalui strata ekonomi
Dampak Perbedaan Status Sosial
Ekonomi Masyakat
Sebagian pakar menyakini bahwa
pelapisan masyarakat sesungguhnya mulai ada sejak masyarakat mengenal kehidupan
bersama. Terjadinya stratifikasi sosial atau sistem pelapisan dalam masyarakat
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem pelapisan yang terjadi dengan
sendirinya artinya tanpa disengaja,dan sistem pelapisan yang terjadi karena
dengan sengaja disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Lapisan-lapisan dalam masyarakat
yang terjadi dengan sendirinya atau tidak disengaja misalnya, lapisan yang
didasarkan pada umur, jenis kelamin, kepandaian, sifat, keaslian keanggotaan
kerabat kepala masyarakat, mungkin pada batas-batas tertentu berdasarkan harta.
Sedangkan sistem lapisan dalam masyarakat yang sengaja disusun untuk mencapai
tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang yang
resmi dalam organisasi formal seperti pemerintahan, perusahaan, partai politik,
angkatan bersenjata dan sebagainya. Kekuasaan dan wewenang itu merupakan
sesuatu unsur khusus dalam sistem pelapisan masyarakat yang mempunyai sifat
lain daripada uang, tanah, dan benda ekonomis lainya. Hal ini disebabkan uang,
tanah, dan jenisnya dapat dibagi secara bebas dalam masyarakat tanpa merusak
keutuhan masyarakat.
Namun demikian, apabila suatu
masyarakat hendak hidup teratur dan keutuhan masyarakat tetap terjaga maka
kekuasaan dan wewenang harus pula dibagi-bagikan secara taratur, sehingga
setiap orang akan jelas dimana kekuasaan dan wewenangnya dalam organisasi, baik
secara horizontal maupun vertikal. Secara teoritis diakui bahwa manusia dapat
dianggap sederajat, akan tetapi dalam kenyataan kehidupan dalam
kelompok-kelompok sosial tidak demikian halnya. Dengan demikian pembedaan ke
dalam lapisan-lapisan merupakan gejala universal serta merupakan bagian dari
sistem sosial setiap masyarakat.
Status sosial adalah merupakan
kedudukan, peranan, dan tanggung jawab seseorang dalam masyarakatnya. Status
itu dikategorikan dalam dua bagian status karena seseorang mewarisi dari
keturunannya (ascribed status), dan status sosial yang digenggam sebab prestasi
yang diperoleh (achieved status). Kelompok ascribed status bertali temali
dengan keturunan, kelahiran dan warisan yang mereka peroleh dari orang tua atau
kakek buyut, dan tidak dibutuhkan jerih lelah untuk masuk dalam kategori ini.
Dalam masyarakat sederhana, karakteristik ascribed status dipandang sebagai
suksesi yang tidak pernah diperdebatkan. Sebaliknya, orang yang dikelompokkan
dalam kategori achieved status adalah orang yang harus berjerih lelah, untuk
menghasilkan sesuatu yang diakui oleh masyarakat luas. Tidak dikenal paham
suksesi, yang berlaku adalah usaha dan prestasi.Fenomena dan realitas sosial
serupa mencolok dalam masyarakat maju, di mana kontestasi merupakan syarat
menuju puncak prestasi. Kedua model status sosial itu terpatri dalam benak
masyarakat, diakui, diupayakan - kendati pun dicemooh - tetapi telah
berlangsung berabad-abad dalam peradaban manusia. Untuk memahami eksistensi dua
status sosial itu, kita mudah mencari, apakah kontribusi mereka bagi masyarakat
dan lingkungan sosial pada zamannya.
Status sosial atau yang sering
disebut stratifikasi sosial menunjukkan adanya suatu ketidakseimbangan yang
sistematis dari kesejahteraan, kekuasaan dan prestise (gengsi) yang merupakan
akibat dari adanya posisi sosial (rangking sosial) seseorang di masyarakat.
Sedangkan ketidakseimbangan dapat didefinisikan sebagai perbedaan derajat dalam
kesejahteraan, kekuasaan dan hal-hal lain yang terdapat dalam masyarakat.
Adanya perbedaan status sosial dalam
hal ini menyangkut perbedaan perekonomian, dapat menimbulkan adanya kecemburuan
sosial, kesejahteraan yang tidak merata, bahkan bisa menyebabkan perbuatan yang
melanggar hukum. Perbedaan status sosial ekonomi secara tidak langsung dapat
mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama yang berada pada lapisan bawah.
Adanya perbedaan status sosial ekonomi dapat menimbulkan konflik sosial
tersendiri bagi masyarakat. Konflik sosial berarti pertentangan antara
kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang diikat atas dasar suku, ras,
jenis kelamin, kelompok, status ekonomi, status sosial , bahasa, agama, dan
keyakinan politik, dalam suatu interaksi sosial yang bersifat dinamis. Baik
dalam masyarakat homogen maupun dalam masyarakat majemuk. Konflik sosial dapat
terjadi karena adanya perbedaan yang disebabkan adanya ketidak-adilan dalam
akses pada sumberdaya ekonomi dan politik. Adanya ketidak-adilan akses pada
sumberdaya ekonomi dan politik memperparah berbagai prasangka yang sudah ada di
antara kelompok-kelompok sosial. Konflik sosial merupakan hal yang sering
terjadi mustahil dihilangkan sama sekali. Yang harus dicegah adalah konflik
yang menjurus pada pengrusakan dan penghilangan salah satu pihak atau para
pihak yang berkonflik. Oleh karena itu konflik harus dikendalikan, dikelola,
dan diselesaikan melalui hukum yang berarti melalui jalan damai.
Perbedaan
Perlakuan Strata Ekonomi
Strata Ekonomi adalah tempat atau kedudukan seseorang dalam
kelompok masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi,
pendidikan serta pendapatan. Dalam
pembahasannya sosial dan ekonomi sering menjadi objek
pembahasan yang berbeda.
Beriku beberapa faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya
keadaan sosial ekonomi seseorang dalam masyarakat yaitu
:
1. Aktivitas ekonomi
2. Jenis pekerjaan
3. Keadaan rumah tangga
4. Tingkat pendapatan
5. Tempat tinggal
6. Jabatan dalam Organisasi
7. Kepemilikan kekayaan
8. Tingkat pendidikan
Dari yang disebutkan di atas, kita bisa melihat perbedaan perlakuan strata ekonomi di masyarakat. Contohnya di sebuah mall yang pakirannya mulai padat, ada 1 mobil mewah dan 1 mobil tidak mewah yang sama-sama mencari tempat parkir, dan satpam mall lebih mengutamakan yang bermobil mewah. Lalu kita juga dapat mengambil contoh di bidang kesehatan, setiap harinya orang yang sakit dan berobat ke dokter sangat banyak, sekarang juga sudah ada layanan untuk masyarakat menengah ke bawah seperti BPJS dan lain-lain. Saya pernah melihat ada masyarakat menengah kebawah yang kesakitan dan membutuhkan perawatan dokter, tetapi hal yang mencengangkan, pasien itu harus membayar dan mengurus banyak hal jika ingin tidak di pumut biaya (gratis). Sedangkan yang orang menengah keatas langsung di rawat dan di beri pelayanan. Ini yang harus di benahi di indonesia. Jangan hanya melihat dari kekayaan. Semua masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sama.
Sumber
:
0 komentar:
Posting Komentar