Kebudayaan Daerah DKI Jakarta
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau yang di
kelilingin oleh lautan dan setiap daerah memiliki kesenian dan kebudayaan yang
berbeda-beda pula. Ibukota Indonesia adalah Jakarta. Rata-rata penduduk
Jakarta adalah orang-orang yang besaral dari Jakarta atau suku betawi. Namun saat ini sudah
banyak masyarakat luar Jakarta yang tinggal di kota Jakarta karena Jakata
merupakan kota metropolitan dan kota perantauan bagi mereka yang ingin mencari
pekerjaan bahnkan ingin mengubah nasip di perantauan.
Sejarah
Sunda kelapa
Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda
yang bernama Sunda Kelapa,berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan
Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang
Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kelapa selama dua hari perjalanan.
Sunda Kelapa yang dalam teks ini disebut Kelapa dianggap pelabuhan yang
terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan
nama Dayo dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari
Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah
ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan ibukota Tarumanegara yang disebut
Sundapura.
Jayakarta
Orang Eropa yang datang ke Jakarta adalah orang Portugi. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabaikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah. Namun, sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk sahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penaklukan pelabuhan Sunda
Jayakarta
Orang Eropa yang datang ke Jakarta adalah orang Portugi. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabaikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah. Namun, sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk sahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi jakarta tanggal 22 Juni adalah berdasarkan tragedi penaklukan pelabuhan Sunda
Kelapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan mengganti nama kota tersebut
menjadi Jayakarta yang berarti "kemenangan".
Batavia
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad je-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menaklukan Jayakarta dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisai Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Republik Rakyat Cina, dan pesisir Malabar, India. Mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi.
Djakarta
Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Semenjak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru, kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dilakukan secara mandiri oleh berbagai kementrian dan institusi milik negara lainnya, seperti Perum Prumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, atara lain, Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota menggantikan Poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangun Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Laju perkembangan penduduk ini pernah dicoba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan ini tidak berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.
Batavia
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad je-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menaklukan Jayakarta dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisai Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Republik Rakyat Cina, dan pesisir Malabar, India. Mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi.
Djakarta
Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Semenjak dinyatakan sebagai ibukota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru, kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dilakukan secara mandiri oleh berbagai kementrian dan institusi milik negara lainnya, seperti Perum Prumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, atara lain, Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota menggantikan Poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangun Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Laju perkembangan penduduk ini pernah dicoba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan ini tidak berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.
Kebudayaan
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo,
atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis Sejak zaman Belanda, Jakarta
merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari seluruh Nusantara.
Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan
Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari
budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugal.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Walaupun dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki
banyak kesenian dan kebudyaan yang ada di dalamnya khususnya mereka yang asli
berasal dari kota Jakarta atau suku betawi. Jakarta memang sebagai ibukota dari
Negara Indonesia namun Jakarta tidak akan pernah lepas dari kesenian dan
kebudayaan yang ada dan menyangkut di dalamnya. Saya akan mencoba untuk membuat
artikel dan menjelaskan beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Jakarta
atau suku Betawi.
Kesenian dan Kebudayaan Jakarta (Betawi)
Jakarta memiliki kesenian dan kebudayaan yang beragam, dan berikut beberapa
kesenian dan kebudayaan yang ada di Jakarta :
Rumah
Adat
Rumah
adat asal Jakarta ini bernama rumah kebaya. Bentuk atap rumah yaitu perisai
landai yang diteruskan dengan atap pelana yang lebih landai, terutama pada
bagian teras. Bangunannya ada yang berbentuk rumah panggung dan ada pula yang
menapak di atas tanah dengan lantai yang ditinggikan. Terdapat halaman rumah
yang luas dan terdapat pagar paling luar dari rumah tersebut. Bentuknya sederhana
dan terbuat dari kayu dengan ukiran khas betawi dengan bentuk rumah kotak (
dibangun diatas tanah berbetuk kotak). Rumah ini terdiri dari ruang tamu, ruang
keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur dan teras extra luas.
Pakaian Adat
Pakaian
adat Jakarta di bagi menjadi pakaian adat untuk wanita dan laiki-lali. Untuk
laki-laki biasanya menggunakan baju koko, celana batik, kain pelekat atau pun
sarung yang di taruh di leher serta peci yang digunakan, sedangkan wanita
mengunakan baju kurung lengan pendek atau pun kebaya, dengan menggunakan kain sarung
batik dan menggunakan kerudung. Untuk pakaina saat pernikahan pakaian laki-laki
di buat Dandanan cara haji. Pakaian pengantin laki-laki ini meliputi jubah dan
tutup kepala, sedang kan bagi perempuan dibuat dandanan ala nona Cina dengan
blus berwarna cerah.Bawahannya menggunakan rok atau disebut Kun yang berwarna
gelap dengan model duyung. Warna yang sering digunakan hitam atau merah hati.
Sebagai pelengkap bagian kepala digunakan kembang goyang dengan motif burung
hong dengan sanggul palsu, dilengkapi dengan cadar di bagian wajah
Seni Tari
Betawi
atau Jakarta memiliki kesenian tari yang ada di daerah tersebut, diantaranya :
Tari
Topeng. Tari ini
sudah cukup lama di kenal sebagai tari tradisional asal betawi. Seni tari ini
biasanya di gelar saat ada pernikahan, acara sunatan dan membayar nazar. Dalam
Topeng Betawi, para penari memakai topeng dan bercerita lewat seni gerak. Kini
tari Topeng Betawi sudah banyak dikreasikan, sehingga Tarian Betawi pun semakin
beragam.
Tari
Cokek Betawi.
Tarian betawi yang satu ini dibawa oleh para cukong atau tuan tanah peranakan
tionghoa yang kaya rayaTarian cokek ini diiringi oleh musik Gambang Kromong.
Pakaian tari Cokek Betawi agak mirip dengan tarian-tarian di Cina. Ciri khasnya
dari tari ini yaitu goyang pinggul yang geal-geol.
Musik
Ada
beberpaka musik khas Jakarta diantaranya :
Gambang kromong Kesenian musik ini merupakan
perpaduan dari kesenian musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari
instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama
Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang,
kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Kesenian Gambang Kromong
berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang
Tanjidor adalah sebuah kesenian Betawi yang
berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik
yang digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat-alat musik yang di tiup
dengan, alat-alat musik gesek dan alat-alat musik perkusi. Biasanya kesenian
ini digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah.
Bela
diri
Betawi
atau Jakarta memiliki jenis bela diri tersendiri yang bernama Pencak Silat.
Bela diri ini dimainkan oleh 2 orang yang memainkan dengan menggunakan pakaian
khas betawai yaitu menggunakan baju koko, ikat pinggang khas betawi serta
menggunakan peci. Biasanya bela diri ini dgunakan sebagai perlengkapan pada
acara pernikahan atau pentas lainnya.
Kesenian
Berikut
kesenian lain yang ada di betawi atau Jakarta :
Ondel-ondel adalah sebuah kesenian betawi berupa boneka yang
tingginya mencapai sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, boneka ini
dibuat dari anyaman bambu agar dapat dipikul dari dalam oleh orang yang
membawanya. Boneka tersebut dipakai dan dimainkan oleh orang yang membawanya.
Pada wajahnya berupa topeng atau dengan kepala yang diberi rambut dibuat dari
ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya di cat dengan warna merah, sedangkan
yang perempuan dicat dengan warna putih
Lenong adalah sebuah pertunjukkan drama dengan alumna musik
gambng kromong dan di tambah unsur lawakan dengan banyolan-banyolan tanpa
adanya plot cerita
Diatas adalah beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di
Jakarta atau Betawi. Masih banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di Jakarta.
Semua itu bisa di cari dengan cara membrowsing. Indonesia memang kaya akan
kesenian dan kebudayaan yang ada di setiap daerahnya, namun dengan perbedaan
kesenian dan kebudayaan tiap daerah menjadinya Indonesia beragam dan tidak
menjadikan semua itu menjadi suatu masalah atau konflik, namu menjadikan
Indonesia itu satu dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dan sebagai
mahasiswa sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di
Indonesia khususnya kebudayaan Betawi yang ada di Jakarta, jangan sampai
kebudayaan ini hilang dimakan oleh jaman karena kemajuan teknologi dan budaya
luar yang sudah masuk ke Indonesia.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi







0 komentar:
Posting Komentar